Apa itu postulat akuntansi? Secara sederhana postulat akuntansi adalah asumsi dasar mengenai lingkungan akuntansi, sedangkan secara terminologi, Postulat akuntansi adalah pernyataan yang dapat membuktikan kebenaran kebenarannya sendiri (aksioma), yang sudah diterima umum karena kesesuaiannya dengan tujuan laporan keuangan, dan menggambarkan aspek ekonomi, politik, sosial, dan hukum, dari suatu lingkungan dimana akuntansi berada (Hery, 2016:11).

Dalam proses penyusunan laporan keuangan, terdapat empat asumsi dasar yang melandasi penyusunannya, diantaranya:

  1. Asumsi Unit Moneter (Monetary Unit Assumption)

Setiap data transaksi yang akan dilaporkan dalam catatan akuntansi harus dapat dinyatakan dalam satuan mata uang (unit moneter). Data yang dapat diukur dalam satuan mata uang (data kuantitatif) akan sangat berguna dalam mengkomunikasikan informasi ekonomi dan membuat keputusan ekonomi yang rasional. Namun ada beberapa jenis transaksi yang tidak dapat dinyatakan dalam satuan uang seperti banyaknya jumlah karyawan, tingkat kepuasan pelanggan, tingkat kepuasan pekerja, dan sebagainya.

  1. Asumsi Entitas Ekonomi (Economic Entity Assumption)

Asumsi bahwa perusahaan sebagai entitas ekonomi yang terpisah dari pemilik sebagai individu. Oleh karenanya aktivitas entitas bisnis harus dapat dipisahkan dan dibedakan dengan aktivitas pemilik dan dengan aktivitas dari setiap unit bisnis lainnya.

  1. Asumsi Periode Akuntansi (Accounting Period Assumption)

Laporan keuangan harus dilaporkan secara periodik (berkala), bisa bulanan (monthly), tiga bulanan (quarterly), atau tahunan (annually). Hal ini agar para pengguna laporan keuangan dapat mengetahui hasil kinerja dan posisi keuangan perusahaan dari waktu ke waktu sehingga bisa mengevaluasi dan membuat keputusan.

  1. Asumsi Kesinambungan Usaha (Going Concern Assumption)

Walaupun ada banyak perusahaan yang mengalami kegagalan dalam bisnisnya, namun didalam pencatatan akuntansi, perusahaan diasumsikan akan tetap terus beroperasi dalam jangka waktu yang lama atau memiliki kelangsungan hidup yang panjang. Asumsi ini menjadi dasar adanya penggolongan lancar dan tidak lancar aset dan kewajiban. Jika asumsi ini tidak ada, maka konsep biaya historis akan menjadi tidak berguna, penyusutan atas aset tetap juga tidak ada karena aset tetap yang dibeli tidak dicatat sebesar harga perolehannya, tetapi nilai pada saat perusahaan dilikuidasi (dibubarkan).

Sumber:
Hery. 2016. Financial Ratio for Business. PT. Grasindo, Jakarta

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here